Beberapa saat yang lalu kami pergi ke Melaka. Tujuan awal hanya akan menghabiskan liburan beberapa hari di Singapura tapi orang tua saya tiba-tiba memiliki ide untuk sekalian ke Melaka. Sempat berpikir untuk terbang langsung dari Jakarta ke Melaka, baru dilanjutkan ke Singapura, tapi ternyata gak ada pesawat direct dari Jakarta ke Melaka dan itupun tidak setiap hari ada penerbangan. Jadilah kami memutuskan untuk pergi ke Singapura dari Jakarta, baru kemudian naik bus ke Melaka.

Karena di Singapura kami menginap di daerah Bugis, jadi saya membeli tiket bus dengan lokasi penjemputan di Queen Street Bus Terminal menujul Melaka Sentral Bus Terminal dengan 707 Express seharga SGD20.00/tiket dan tiket kembali seharga SGD13.00/tiket. Tiket berangkat yang kami pilih memang lebih mahal karena kami memilih waktu keberangkatan paling pagi yaitu jam 7.15 sedangkan kembali ke Singapura keesokan harinya jam 11.00AM.

Di hari keberangkatan, kami siap di terminal bus dari jam 6.15 pagi karena tidak ada penjelasan kapan harus siap di lokasi, kapan bus datang dan dimana tepatnya bus akan menjemput. Informasi yang kami dapatkan hanyalah waktu keberangkatan saja. Ternyata karena kami terlalu pagi, loket informasi belum buka dan di depannya ada 2 turis yang sama bingung-nya dengan kami. Baru jam 6.30, loket buka dan kami segera check in untuk mendapatkan nomor kursi.

Menunggu bus di pagi buta

Bus tujuan Melaka datang jam 7 kurang. Kami langsung memasukan barang di bagian bawah bus, masuk dan duduk di kursi yang sesuai dengan tiket kami.

Tempat duduk di paling belakang
Suasana di dalam bus

Perjalanan Singapura – Melaka ditempuh sekitar 3 jam 15 menit, tergantung dari kondisi lalu lintas. Untungnya saat berangkat, kami memilih hari biasa sehingga tidak terjebak macet. Kurang dari 1 jam kami sampai di perbatasan antara Singapura-Malaysia. Karena perjalanan antar negara, maka kami harus turun dari bus untuk melewati pemeriksaan imigrasi. Di kantor imigrasi Singapura, kami tidak perlu menurunkan barang namun di imigrasi Malaysia kami harus menurunkan semua barang bawaan kami untuk diperiksa. Untungnya karena kami datang di hari biasa, tidak antrian di imigrasi tidak begitu panjang.

Setelah melewati imigrasi Malaysia, perjalanan dilanjutkan menuju Melaka. Sekitar jam 11 siang kami sampai di Melaka Sentral Bus Terminal.

Sampai di Melaka Sentral Bus Terminal

Sebenarnya ada beberapa blog yang menjelaskan cara menuju kota dengan menggunakan bus, namun karena kami ingin mempersingkat waktu maka kami menggunakan taksi. Supir taksi cukup kaget saat mengetahui kami dari Indonesia dan menginap di daerah Jonker Walk karena menurut dia sangat susah mencari makanan yang halal di daerah tersebut. Jadi untuk teman-teman yang Muslim, untuk mencari makan lebih baik di lokasi yg lain saja, jangan Jonker Walk. Menurut si supir taksi, daerah yang banyak makanan & halal ada di sekitaran Mahkota Parade.

Gerbang Jonker Walk tepat di depan hotel

Hotel di Melaka bisa dibilang murah, sangat jauh dibawah harga hotel di Singapura. Kami menginap di TheBlanc Boutique Hotel dengan harga tidak sampai Rp.500.000/malam untuk 3 orang. Kamarnya pun besar, lega dan sangat bersih. Di daerah Jonker sendiri sangat banyak hotel, dari yang berbintang sampai hostel dan semua dengan harga yang sangat miring, bahkan ada yang hanya Rp. 150.000/malam.

Sebenarnya Jonker Walk hanya ramai di saat akhir pekan (Jumat Malam-Minggu), sehingga saat kami kesana suasana cukup sepi. Namun, kami tetap bisa menikmati makanan dan tempat wisata yang berada dekat dengan hotel kami (akan dibahas di postingan yang lain).

Kami hanya menghabiskan 1 hari di Melaka dan harus langsung kembali keesokan harinya karena sudah ada rencana lain di Singapura.

Perjalanan balik ke Singapura ternyata memakan waktu yang jauh lebih lama karena :

  1. lalu lintas yang sangat padat
  2. hujan deras yang berguyur sepanjang perjalanan.
  3. antrian imigrasi yang sangat panjang
Menunggu bus tujuan Singapura

Antrian imigrasi yang panjang ini akhirnya membuat kami sekeluarga ditinggal oleh bus yang seharusnya membawa kami kembali ke Singapura, sehingga kami harus naik bus selanjutnya. Ternyata kejadian “tertinggal oleh bus” adalah hal biasa dan penumpang bisa naik bus selanjutkan asalkan dari perusahaan bus yang sama.

Karena hal ini, kami yang seharusnya sampai di Singapura jam 14.30, baru berhasil sampai jam 16.30. Untung masih ada waktu beberapa jam sebelum acara saya selanjutnya, namun hal ini cukup membuat kami ketar ketir dan lelah.

Sebenarnya perjalanan dengan bus ini cukup menghemat biaya dan tidak terlalu memakan waktu banyak jika kita mengambil waktu yang tepat. Namun, akan lebih baik jika kita memberikan spare waktu yang cukup karena kita tidak bisa memprediksi antrian yang terjadi di imigrasi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: